Finally, the so much needed break finally comes…
Setelah cuti singkat di pertengahan bulan April yang lalu sebelum berangkat ke US, inilah cuti berikutnya yang saya ambil. Sebenarnya, timing cuti kali ini tidak terlalu mengenakkan untuk saya, karena saya masih punya hutang bagian yang harus saya selesaikan di proyek global call center yang – jika tidak ada aral melintang – akan go-live pada tanggal 1 Agustus nanti. Walaupun saya bukan PM dari proyek ini, tetap saja kembali bekerja lagi pada minggu ke-tiga Juli sebenarnya menurut saya terlalu mepet. Tetapi tetap saja cuti kali ini akan saya ambil. Cuti ini sudah terjadwal lama…
Kedua bidadari kecilku libur sekolah. Saya ingin dan harus bersama mereka…
Entah kenapa, cuti kali ini rasanya benar-benar saya butuhkan untuk mengisi kembali baterai psikis dan mental. Mungkin karena cuti yang sebelumnya terlalu singkat? Bisa jadi. Tapi mungkin juga – menurut saya ini yang jadi penyebab utama – karena saya terlalu lelah. Bukan karena banyaknya proyek yang dibebankan ke saya akhir-akhir ini, tapi sepertinya lebih karena akumulasi kelelahan yang menahun…
Saya pernah baca artikel – dan berdiskusi juga dengan beberapa teman – bahwa bekerja di bidang customer service itu secara mental sangat melelahkan. Jika kita ingin dapat menghasilkan kinerja yang baik di bidang ini, tidak hanya kita harus bekerja sebaik-baiknya, tetapi kita juga harus punya kemampuan untuk tetap bekerja dengan kualitas yang sama di saat mood kita sedang jelek atau di saat pikiran kita sedang terganggu oleh hal-hal lain – terutama hal-hal yang tidak mengenakkan. Itulah sebabnya mengapa turnover karyawan di bidang ini bisa dibilang cukup tinggi. Keharusan untuk bisa berada di mood yang bagus setiap saat, keharusan untuk selalu up-to-date dengan sekian banyak teknologi dan layanan baru yang harus dilayani dan tekanan tinggi yang datang setiap saat – apalagi kalau customer-nya banyak yang rewel – mengakibatkan ‘cadangan emosi’ yang dimiliki personel di bidang ini cepat ‘habis’ dan ujung-ujungnya mereka akan mencoba bidang lain…
Saya bukanlah frontliner yang berhadapan langsung dengan user. Para staf sayalah – termasuk Shift supervisor dan Call Center supervisor – yang berhadapan langsung dengan mereka. Dan di antara mereka ada beberapa orang sudah bekerja di departemen ini selama lebih dari 10 tahun! Saya nggak tahu bagaimana mereka bisa bertahan selama itu, menisbikan apa yang dipaparkan oleh artikel yang saya sebutkan di atas…
Saya yang baru beberapa tahun aja udah pengen pindah nih…
Tingkat turnover di departemen yang saya urus saat ini termasuk rendah – hanya 4 kasus selama beberapa tahun saya mengelola departemen ini. Tetapi itu juga berarti saya harus menyikapi sebijaksana mungkin kinerja mereka semua. Jika ada yang tiba-tiba drop, harus benar-benar diselidiki dan dicari apa akar permasalahannya. Jika ada yang tiba-tiba berantem dengan user, jangan serta-merta menyalahkan mereka, etc. etc. Semua itu – dari yang memang awalnya tidak mudah – menjadi semakin sulit karena harus dilakukan dengan kondisi manajemen yang ‘nggak mau tahu – pokoknya harus bagus terus’.
Yang jelas, saya berhutang banyak kepada para Shift Supervisor dan Call Center Supervisor saya, karena mereka lah yang – selain harus berhadapan langsung dengan user – membimbing langsung para officer dalam operasional sehari-hari. Tanpa mereka, saya nggak tahu barus berbuat apa…
Meanwhile, I am really keen to enjoy this break, including doing photography again after losing my mood for quite some time…



Met take a break bos.
Jadi inget waktu gua kerja di Expediting, yang notabene CS-nya Materials Management, kerjaannya ngga ribet, bisa dibilang mudah malah. Tantangannya adalah bagaimana kita bisa melakukan “customization” dalam mengomunikasikan jawaban atau solusi masalah yang dihadapi user. Bisa banyak variasinya, teknis jawaban, tingkat detail jawaban, cara berbicara, kecepatan berbicara, dan kadang-kadang, logat juga berpengaruh, hehehe. Tapi yang paling berpengaruh dalam kesuksesan menangani customer buat gua, at the end…., positive attitude, dan ini variabel yang memengaruhinya banyak banget, salah satunya ya ‘mood’, dan ini somehow gua yakin bisa dirasakan oleh orang kepada siapa kita ajak bicara.
Makanya kalau kita bisa manage mood kita, juga manage mood tim kita, sukses deh di bidang CS.
Oh iya, satu hal yang bikin gua cukup enjoy kerja di Expediting dulu, selain bos yang enak, gua juga dapat rooster 6-2, at the time, 90% mood gua selalu pada level atas rata-rata…
Waaah, selamat becuti-cuti ria. Kayaknya di jobsite amat sangat gila kerja yah.. hihihi,
Wah … cuti … kata yang sudah 3 tahun ini tidak pernah saya dengar
Go take your vacation. Don’t die for the company. Itu motto saya
Have no idea what you said, but the picture was great and worth a thousand words.
The writing was about myself taking a break from my daily life that separated me from my family. I am working at a remote area, so I have only little time during the year to meet my family. Also some backgrounds about where I work that made me really needed the break…
Those kids in the picture are my daughters, and they are my spirit, my life…
Thanks anyway, for the comment…