Dalam beberapa hari lagi, negeri zamrud khatulistiwa ini akan memilih presiden & wakilnya yang baru – walaupun pilihan yang ada semuanya wajah-wajah lama. Semua capres-cawapres yang akan ditentukan nasibnya dalam beberapa hari ke depan – apakah akan jadi pemenang ataukah akan menjadi pecundang – sudah bertarung sejak beberapa minggu yang lalu. Lewat iklan yang juga mendaur-ulang lagu daerah & bahkan lagu jingle iklan produk mie instan terkenal, lewat pencitraan di media apa saja, lewat kampanye langsung di daerah-dearah, dan juga lewat talk-show di media TV yang berupa debat – debat capres, debat cawapres, debat tim sukses & bahkan debat pendukung
Mulai dari yang santun (masih ingat debat capres putaran pertama? Acaranya mungkin lebih tepat dinamakan ‘Obrolan Capres’) sampai yang model black campaign, semua juga ada…
Kalau sedang berhadap-hadapan langsung sih para capres itu paling banter cuma saling menyindir, masih pada sungkan rupanya…
Macam-macam cara jualannya, macam-macam pula jualannya.
Yang nomor satu mengusung ekonomi kerakyatan. Menurut si nomor satu, sistem ekonomi yang bakal diusung oleh nomor-nomor yang lain tidak berpihak kepada rakyat. Nggak tanggung-tanggung, untuk menunjukkan bahwa mereka lebih berpihak pada rakyat daripada calon yang lain, deklarasi pencalonannya pun diselenggarakan di sebuah TPA sampah di pinggiran Jakarta (atau udah masuk Bekasi ya..?), dengan biaya yang cukup untuk menyantuni puluhan ribu fakir miskin dengan dana sejumlah BLT saat ini. Calon lain disebut-sebut mengusung kebijakan ekonomi neolib karena kebijakan-kebijakannya, seperti kebijakan memprivatisasi BUMN…
Ehm, lupa ya siapa yang jualan Indosat dulu?
Yang nomor dua sibuk menjual keberhasilan yang ada saat ini – maklum, calon nomor dua ini masih menjabat (dan melayani rakyat?) pada saat kampanye sekarang ini. Slogannya singkat-padat: Lanjutkan. Lanjutkan keberhasilan yang ada saat ini (dan mudah-mudahan bukannya juga melanjutkan kegagalan-kegagalan yang ada, amien..). Calon nomor dua sekaligus sibuk menepis tudingan-tudingan dari pesaing-pesaingnya. Mereka sampai kebakaran jenggot dan sibuk menepis tudingan kalau istri si cawapres bukanlah umat kristiani seperti yang dihembus-hembuskan, entah oleh tim sukses calon nomor berapa. Satu bukti nyata bahwa agama pun sekarang sudah jadi alat dan kendaraan politik, langsung maupun nggak langsung. Calon nomor dua jelas takut kehilangan suara dari kaum muslimin yang notabene adalah 90% dari jumlah total rakyat negeri ini dengan adanya berita seperti itu…
Memangnya kenapa sih? Ilmu agama saya emang parah. Kalau nyonya cawapres memang muslim, alhamdulillah. Tapi kalau bukan? Lelaki muslim seingat saya boleh menikahi wanita ahli kitab koq, tidak ada yang salah dengan itu. Tinggal membuktikan saja, nyonya cawapres itu (kalau memang umat kristiani) termasuk yang ahli kitab atau bukan…
Trus ga usah sibuk-sibuk pake kerudung deh, kalau sehari-hari juga ga pake…
Yang nomor tiga jualannya beda lagi (ya jelas dong, ga seru kalau jualannya sama aja..). Intinya – menurut saya – adalah bagaimana caranya menjadi tuan di negeri sendiri, terutama dari sisi pembangunan ekonomi. Jualan yang jelas, soalnya capresnya kan pedagang J Dalam salah satu jualannya, (katanya) setiap pemuda yang butuh modal untuk usaha bakal mendapatkannya. Bagaimana detailnya, tentu itu urusan nanti kalau sudah terpilih. Calon nomor tiga juga mengusung slogan ‘Lebih cepat, lebih baik’, langsung maupun tidak langsung sekaligus menyindir calon nomor dua yang katanya lelet untuk urusan mengambil keputusan.
Lebih cepat belum tentu lebih baik lho, Pak…
Saya nggak ingin berpretensi atau mendukung salah satu pasangan dalam tulisan ini. Saya sendiri masih bingung koq, mau pilih yang mana tanggal 8 nanti. Tapi satu hal yang ingin saya garis-bawahi dan ingatkan kepada para kontestan: Semoga mereka semua nggak hanya siap menang, tapi juga siap kalah. Nggak usah deh pake acara gontok-gontokan menuding yang menang berlaku curang dan lain sebagainya…
Semua pasangan berpotensi untuk dituding curang jika menang. Pasangan nomor satu bisa dituding curang karena mayoritas kepala daerah tingkat I dan II di pulau Jawa – pulau di mana mayoritas pemilih tinggal – adalah kader dari partai si capres. Pasangan nomor dua bisa dituding curang karena bagaimanapun juga capres pasangan ini adalah orang nomor satu birokrasi dan aparatnya bisa saja bersikap loyal. Pasangan nomor tiga bisa juga dituding curang karena simpatisan dan kader dari partai mayoritas yang mengusung pasangan ini masih beredar juga di setiap lapis birokrasi negeri ini. Belum lagi masalah politik uang, serangan fajar, dll, dll…
Tuh kan? Kalau mau dicari-cari, alasan mah bisa banyak…
Masih segar dalam ingatan saya – dan tentunya di benak banyak orang lain juga – bagaimana proses pilkada di banyak daerah yang baru lalu, di mana tidak sedikit dari perhelatan tersebut yang berakhir dengan saling tuding curang, pendukung yang berunjuk rasa yang tidak sedikit berakhir ricuh atau bentrok, proses pemilihan ulang yang memakan waktu dan biaya yang lebih besar lagi, yang semuanya menguras energi, emosi, biaya dan waktu….
Bapak-bapak (dan Ibu), negara dan sistem kita memang belum sempurna. Kalau kita semua bisa bersikap sportif dan (terlebih lagi) arif, tentunya kita akan lebih mengedepankan pemikiran bagaimana kita bisa membangun bangsa & negara ini menjadi lebih baik setelah perhelatan ini, siapapun nanti yang keluar sebagai pemenang…
Masih segar juga dalam ingatan kita, bagaimana McCain berdiri di podium dan mengumumkan kekalahannya serta memberi selamat Obama yang memenangkan pemilihan presiden di negeri seberang beberapa waktu lalu. Saya masih punya keyakinan koq, dengan semangat kebangsaan dan sikap kenegarawanan para capres-cawapres kita, hal seperti itu juga bisa terjadi di sini…
Nyampe nggak ya, omongan saya yang agak ngelantur ini? Ah, mereka udah gede koq, pasti udah tau apa yang terbaik untuk bangsa ini…
Ngomong apaan sih gue barusan? Udah ah, motret lagi aja…



Akhirnya nulis lagi.
Bagaimanapun, kalau memilih, siap bangga atau siap kecewa, siap memuji atau siap mengritisi. Boleh juga ngga memilih, tapi jangan bicara atau bertindak kalau ada sesuatu yang mengecewakan dari calon terpilih. Ada yang bagus Mas, ngga ada yang sempurna *wink wink*
* masih menunggu ratu adil itu…
@Om Ingo: setuju Om, dari sisi kita sebagai pemilih harus siap juga mendukung siapapun yg keluar sebagai pemenang, dipilih oleh mayoritas bangsa ini. Yaah, itung2 kita juga belajar berdemokrasi, hehehe…
@Mas Iman: sama dong Mas…
hanya saja kita juga harus jalan terus dengan ‘yang ada’ saat ini…