New things worth to try out…
Di tulisan Practice Makes Perfect saya sudah cerita sedikit kalau saya baru saja beli satu lensa lebar baru, Zuiko 12-60mm SWD (yah, sekarang ya nggak terlalu baru sih..). Kesempatan pertama untuk nge-test lensa itu datang waktu saya dimintai bantuan untuk mendokumentasikan penyelenggaraan shalat ied di masjid Baiturrahim, di kota tempat saya bekerja. Tapi, kali ini saya juga ingin lihat apa benar lensa ini lebih baik daripada lensa lebar saya sebelumnya. Tes kecil-kecilan saja, saya kan bukan expert di bidang ini. Hanya ingin memperhatikan sedikit lebih detail, apakah lensa ini sesuai dengan harapan saya atau tidak..
Ada yang berbeda dengan penampilan salah satu lensa terbaru dari koleksi lensa Zuiko ini. Body lensa yang jadi salah satu andalan Olympus untuk disandingkan dengan kamera E-3 ini bergelang biru. Saya nggak tau apa memang tujuannya untuk menyaingi Canon yg memakai gelang merah di prime-lense mereka. Tapi yang jelas, gelang biru ini menjadi amunisi tambahan buat saya di milis (yang 75% percakapannya adalah ledek-ledekan, hehehe..) di komunitas fotografi tempat kerja saya yang dipenuhi dengan pengguna Canon & Nikon. Body lensa lumayan terasa berat dibanding dengan Zuiko 14-45, wide-lense saya sebelumnya. Tapi saya ga keberatan koq. Digabung dengan E-3 plus vertical grip, secara keseluruhan akan terasa mantap tapi mudah untuk urusan handling…
Dengan crop-factor 2, rentang 12-60mm lensa ini menjadi seperti 24-120mm. Medium range ini yang saya butuhkan, karena saya merasa nggak praktis kalau harus bawa dua camera-body pas sedang meliput event, terutama yg indoor, tapi kalau musti gonta-ganti lensa ya bakal repot juga. Jadi, rentang ini saya anggap pas, saya bisa dapet wide tapi sekaligus zoom-nya lumayan juga. Jarak mínimum ke obyek yang hanya 25cm juga membuat lensa ini bisa saya pakai kalau saya ingin fokus ke detail. Saya belum sempat nyoba lensa ini untuk motret landscape (belum jalan-jalan lagi & terlalu males nyari obyek baru di sekitar sini karena terlalu banyak interupsi kerjaan pastinya..). Tapi dari beberapa contoh waktu saya motret event Iedul Fitri bulan lalu saya puas dengan ketajamannya (sharpness) di 12mm, walaupun saya belum sempat nyoba di aperture di atas 5.6. di 60mm, ketajamannya juga terjaga.
So, I have no problem (so far) with sharpness using this lens…
Vignetting (warna gradasi gelap di pojok-pojok foto) juga tidak tampak (lagi-lagi, saya nggak nyoba di semua aperture). Tapi paling ngga saya sudah nyoba di focal length paling lebar (12mm) dan paling jauh (60mm). Di kedua focal length ini, terutama di 12mm, indikasi ini tidak terlihat. Ini yang penting, karena biasanya masalah ini muncul di focal length lebar. Hal ini cukup mengganggu, karena saya harus melakukan extra-editing untuk menghilangkan vignette di pojok-pojok foto, atau bahkan crop foto tersebut. Dengan tidak munculnya vignette di foto-foto yang dihasilkan lensa ini, saya nggak perlu melakukan kerja ekstra.
No vignette as well, good sign…
Color fringing(emmm, istilahnya di bhs Indonesia apa ya..) tidak muncul di 12mm. Tapi, waktu saya coba motret bunga frangipani putih dengan latar belakang gelap di 60mm tampak muncul color fringing, walaupun tidak terlalu signifikan dan harus saya perbesar beberapa kali foto tersebut sebelum tampak indikasi itu. Walaupun tampaknya nggak terlalu mengganggu, hal ini harus diperhatikan kalau saya ingin mengambil gambar di posisi zoom maksimum 60mm. Di sisi lain, bokeh yang dihasilkan di 60mm cukup bagus dan halus (buat saya pribadi..) sehingga kita bisa mengisolasi obyek yang kita inginkan dengan menggunakan lensa ini di bukaan lebar.
So, good bokeh at 60mm but be careful with the color fringing…
Satu hal lagi, salah satu hal yang digembar-gemborkan oleh Olympus ketika mengeluarkan lensa ini pertama kali adalah kecepatan auto-focus yang dimiliki oleh lensa ini. Mereka mengklaim bahwa lensa ini memiliki “the world fastest AF system”. Well, saya nggak punya cukup data atau informasi mengenai kebenaran hal ini, tapi yang bisa saya sampaikan adalah teknologi SWD (Supersonic Wave Drive) yang mereka perkenalkan di lensa ini memang membuat auto-focus lensa ini jauh lebih cepat dibandingkan dengan lensa-lensa Zuiko versi lama yang tidak menggunakan teknologi ini. Tercepat di dunia atau tidak, saya nggak begitu peduli, yang penting performa auto-focus lensa ini sudah memenuhi apa yang saya inginkan saat ini.
Secara keseluruhan? Saya memang belum sempat melakukan eksplorasi yang lebih detail dengan lensa ini. Saya bahkan belum mencoba lensa ini untuk tujuan utama kenapa saya beli lensa ini, yaitu untuk motret landscape. Tapi dengan eksplorasi terbatas yang sudah sempat saya lakukan, saya rasa saya nggak rugi beli lensa ini. Tinggal tunggu jadwal jalan-jalan berikutnya untuk benar-benar eksplorasi detail.
Sambil motret landscape lagi tentunya, mengabadikan keindahan alam ini, sebelum manusia merusaknya…








good explorasi untuk lensa baru, agar lebih mengenal. Saya contoh juga cara anda ini…keren hasilnya.
Salam kenal, mas..
cuman explorasi sederhana sesuai kebutuhan, kemampuan dan waktu yg ada, hehehe.. Moga-moga setelah ini sempet explore lebih dalam lagi…
baru ngecek lagi, liat email address-nya, ini ternyata Pak Judihanri toh? hehehe..