Another camera backpack is required…
Beberapa waktu yang lalu saya memutuskan untuk membeli tas kamera baru. Ada beberapa alasan yang menjadi pemicu keputusan ini. Beberapa di antaranya muncul pada saat trip jalan-jalan saya yang terakhir ke Raja Ampat, Papua Barat…
Alasan pertama adalah karena camera backpack yang saya gunakan saat ini – buatan Bandung seukuran Lowepro CompuTrekker AW – sudah mulai menampakkan tanda kelelahan setelah 5 tahun dipakai terus menerus. Di beberapa tempat jahitannya tampak lapuk walaupun belum terlepas sama sekali, dan ada kaitan plastik pengatur tali punggung yang sudah patah karena menahan beban berat belasan kilogram…
Alasan kedua adalah karena saya memang perlu tas baru yang lebih ringkas daripada tas yang saya sebutkan pertama tadi. Dengan menggunakan tas pertama, saya cenderung malas (hehehe…) untuk mengeluarkan barang-barang yang tidak saya perlukan. Misalnya nih, saya pergi untuk trip hunting foto beberapa hari. Di hari pertama, kedua dan ketiga kemungkinan besar saya sudah tahu apa yang menjadi target saya hari itu atau lebih spesifik lagi pagi itu. Beberapa barang mungkin tidak saya perlukan, misalnya lensa tele, karena saya sudah berniat untuk fokus motret menggunakan lensa lebar. Saya seharusnya bisa saja meninggalkan lensa tele itu di tempat saya menginap. Belum lagi barang-barang yang lain yang tidak perlu dibawa waktu hunting, seperti battery charger misalnya. Tapi memang sudah pada dasarnya males, akhirnya semua barang tersebut tetap ikut di dalam backpack…
Alasan ketiga adalah karena saya perlu tas kamera yang memungkinkan saya untuk mengeluarkan kamera dengan mudah tanpa saya harus menurunkan tas kamera dari punggung terlebih dahulu. Salah satu pemicunya adalah trip terakhir saya ke Wayag, Raja Ampat, di propinsi Papua Barat. Pada saat kami sampai di puncak bukit karang di Wayag, jangankan untuk meletakkan backpack, cari tempat rata dikit untuk duduk saja sudah sulit karena di mana-mana karang tajam. Begitu ketemu tempat untuk bongkar tas kamera, lokasinya agak jauh dari spot tempat saya ingin memotret. Terpaksa tas saya tinggal di situ. Barang-barang yang ada dalam tas bisa saja tercecer. Kalau maling sih kemungkinan besar nggak ada di situ…
Ya iya lah, ga ada orang lain selain kami di radius beberapa kilometer…
![]()
Pilihan saya akhirnya jatuh kepada Lowepro Fastpack 250. Ada beberapa alasan kenapa saya memilih tas ini (lagi hobi beralasan melulu nih..). Kenapa Lowepro? Simpel saja, karena saya sudah kenal merek ini dan saya puas dengan kualitas produk yang dihasilkan yang saya sudah pernah gunakan. Dari teman-teman yang menggunakan backpack Lowepro, yang ada selama ini juga komentar-komentar positif mengenai kualitas dan kemampuannya melindungi kamera kita di dalamnya.
Kenapa Fastpack? Karena tipe ini memiliki kompartemen kamera yang bisa dibuka dari samping dengan mudah tanpa kita harus menurunkan tas dari punggung. Cukup lepaskan tali sebelah kanan dari bahu, kita sudah bisa membuka kompartemen dan mengeluarkan kamera yang sudah siap pakai. Sebetulnya tipe Slingshot juga oke, dengan hanya satu tali punggung kita bisa menggeser tas dengan cepat untuk mengeluarkan kamera. Sebenarnya Slingshot adalah incaran awal saya, tapi stok sedang kosong pada waktu saya mampir di toko kamera langganan saya di Jakarta. Jadilah saya putuskan untuk membeli Fastpack yang jadi alternatif kedua saya…
Lowepro Fastpack memiliki empat macam tipe ukuran: 100, 200, 250 dan 350. Kenapa 250? Tipe 100 terlalu kecil untuk saya, seperti nggak bawa backpack di punggung. Takutnya nanti kalau tertinggal tetap saja saya nggak nyadar
Tipe 200 juga masih terlalu kecil, tidak semua keperluan utama saya di trip hunting foto bisa masuk di tas ini dan tidak ada kompartemen untuk laptop di tipe ini. Tipe 350 besarnya sudah sama dengan camera backpack saya yang ada sekarang. Kalau memang perlu tas segede ini mah saya udah punya
selain itu, dengan tas sebesar itu, walaupun terdapat kompartemen kamera yang bisa dibuka dari samping, tetap saja akan sulit untuk menggeser tas untuk membuka kompartemen dan mengambil kameranya. Jadi, tetap saja tasnya harus kita turunkan…
Apakah saya puas dengan tas baru saya? Secara keseluruhan, oke laah
Tapi ada dua hal yang menurut saya kurang dari tas ini…
Emang dasar manusia nggak pernah puas…
![]()
Yang pertama, tas ini nggak punya tipe AW (All Weather), alias Lowepro nggak menyediakan “jas hujan” untuk tas tipe ini. Jadi saya nggak bisa berhujan-hujan terlalu lama seperti saat menggunakan tas saya yang besar itu. Kalau sedang trekking dan hujan, saya terpaksa berhenti untuk berteduh. Atau kalau mau, kita tetap jalan terus memakai ponco, yang menurut saya jauh lebih nggak praktis ketimbang jaket anti air yang biasa saya pakai…
Yang kedua, jika kita membawa lensa tele, kita harus memasang lensa tele yang kita bawa ke badan kamera untuk bisa menyimpan dengan mudah di kompartemen yang ada. Kalau kita memasang lensa lain di badan kamera, tidak ada cukup ruang lain untuk menyimpan lensa tele. Jadi kalau kita ingin memotret dengan lensa lebar misalnya, tetap harus ada acara bongkar kamera dulu. Maunya sih ada cukup ruang untuk lensa tele yang tidak terpasang di backpack seringkas ini. Gimana caranya? Terserah Lowepro lah, atur gimana caranya, hehehe…
Lain-lain? Tidak ada. Sejauh ini belum ada keluhan lain
Saya cukup puas dengan pilihan saya ini. Moga-moga tidak ada keperluan untuk beli tas kamera lagi. Sudah ada 3 ukuran mulai dari yang kecil (hadiah ulang tahun dari istri tercinta, sekarang dipakai Qiqi yang tampaknya tertular hobi fotografi dan ikut eskul fotografi di sekolahnya..), yang sedang dan yang gede.
And now I’m ready for the next trip…
Lowepro Fastpack 250 photos were taken from www.lowepro.com






Izzy, ini sama dengan backpack kamera aku. Sebelumnya aku punya yang sling, dengan alasan lebih gampang untuk dikeluarkan kameranya. Tetapi setelah dipakai, ternyata yang slingback ini tidak enak dipakai kalau jalan jauh, apalagi bawa semua lensa. Jadilah membeli yang tipe ini, yang lebih ergonomis. Setuju, kekurangannya tidak ada jaket seperti yang slingback itu, dan lensa panjang harus dipasang di body. Selebihnya sih aku puas dengan produk ini. Banda?
Ternyata slingback ga enak dipakai kalau trekking ya? untung ga jadi beli yang itu, hehe..
Banda? coming soon
arrangement is in progress..