What do you expect from your tripod…?
Kalau trip Wayag Raja Ampat memicu saya untuk beli tas kamera baru, maka yang menjadi trigger buat saya untuk membeli tripod baru adalah trip saya ke Belitung dan ke puncak Ijen. Sudah cukup lama sih memang, hanya saja baru sekarang terpikir untuk menuliskan pendapat saya tentang tripod pilihan saya ini…
Angin dan air. Dua hal inilah yang menjadi pemicu ketika saya memutuskan untuk membeli tripod baru yang lebih bagus kualitasnya. Dan juga yang lebih berat daripada tripod milik saya waktu itu.
Di trip Belitung, waktu itu memang sedang musim pancaroba – benar-benar pilihan waktu yang aneh untuk sebuah trip hunting foto – dan angin cukup kencang. Kami menemukan sebuah spot memotret yang sangat bagus di sebuah bukit batu di pulau Burung di lepas pantai Belitung. Bukit batu yang menjulang tanpa terhalang pepohonan membuat angin menjadi semakin leluasa bertiup. Dan tripod ece-ece yang saya bawa benar-benar bukan tandingan untuk angin musim pancaroba. Bahkan dengan kamera terpasang, kalau tidak saya pegang tuh tripod, dia pasti sudah ngejoprak di kaki bukit karena tiupan angin. Hasil fotonya? Jangan ditanya deh. Kesempatan motret panorama dahsyat hilang karena tripod yang tidak memadai.
Di trip ke puncak Ijen, kebodohan berulang. Saya masih membawa tripod yang sama. Hanya saja kali ini air yang menjadi medianya. Kejadiannya ketika dalam perjalanan saya menemukan sungai kecil berbatu-batu, bagus banget. Sudah pasti yang terpikir adalah slow-speed shooting, agar di dalam foto tersebut air jadi tampak seperti kapas. Spot terbaik yang saya temukan ada di tengah sungai kecil itu. Nggak dalam, dangkal saja. Arus air juga menurut saya biasa saja, nggak deras-deras amat. Sekian banyak jepretan di situ. Setiap hasil saya cek ulang, gedein dikit di LCD screen, ketajamannya kayanya oke. Waktu diolah di Photoshop, sudah terpikir, “hmmm, kayanya koq ga terlalu tajam ya…”. Tetep nekat dicetak. Dan hasilnya? Semua foto di sungai itu shaky. Tripod-nya nggak cukup kokoh untuk tidak goyang terkena arus lembut air sungai kecil itu. Kalau nggak malu sama mbak-mbak di studio foto itu, mungkin saya udah nangis sambil guling-guling di situ…
OK, my new tripod must be sturdy enough…
Ada dua opsi untuk tripod bagus yang kokoh: (1)mau yang cukup berat? Atau (2)mau yang ringan dan dilengkapi dengan cantelan untuk menggantung beban tambahan supaya tripod menjadi kokoh? Saya memilih yang pertama,karena saya nggak mau ribet dengan urusan menggantung beban tambahan saat saya motret. Lagipula, saya hobi motret dengan sudut rendah, bakal repot kalau harus menggantung beban tambahan lagi…
And it must be low enough…
Karena saya hobi motret dengan sudut rendah, saya perlu tripod yang bisa diatur sedemikian sehingga posisi kamera bisa serendah mungkin. Memotret panorama atau landscape dari sudut yang rendah buat saya sangat menarik, karena foto yang dihasilkan akan memberikan kesan luas. Fleksibilitas pengaturan posisi ini juga memberikan keuntungan waktu kita memotret makro, walaupun saya sendiri tidak terlalu suka – dan memang nggak bisa – motret makro…
But yet it has to be tall enough…
Saya cukup malas untuk membawa-bawa tripod dan monopod sekaligus ketika traveling. Dan ketika harus memilih salah satu, saya cenderung akan memilih membawa tripod yang kalau terpaksa bisa saya fungsikan menjadi monopod daripada membawa monopod yang tidak bisa berfungsi sebagai tripod. Konsekuensinya, tripod yang saya perlukan harus cukup tinggi ketika ditegakkan agar saya bisa memotret dengan nyaman di posisi berdiri.
Setelah menimbang-nimbang beberapa pilihan, akhirnya saya memilih Manfrotto 055X ProB. Terbuat dari alumunium dengan berat total 2,4kg, tripod ini masih cukup ringan untuk dibawa bersama peralatan foto yang lain, tetapi juga cukup berat untuk membuatnya kokoh pada saat digunakan memotret. Ditambah lagi dengan ballhead, kamera dan lensanya, bobot keseluruhan akan cukup untuk membuat tripod ini berdiri kokoh dan stabil. Kaki-kaki tripod juga bisa dikunci di tiga sudut berbeda untuk membuatnya lebih stabil. Aliran air dan angin yang menggoyahkan tripod lama saya di Ijen & Belitung tidak akan berkutik kali ini. Yah, asal bukan angin puyuh atau banjir bandang aja…
Jika ketiga kaki tripod diatur di posisi paling lebar dan kolom tengah diatur di posisi horisontal, kepala tripod bisa diposisikan sampai serendah-rendahnya 10cm dari permukaan. Sudah cukup rendah? Buat saya cukup banget. Sejujurnya, sejak saya beli tripod ini, rasanya saya belum pernah motret dari posisi yang paling rendah. Setiap kaki bisa diatur terpisah dan membuatnya sangat fleksibel sehingga posisi kamera bisa sangat beragam. Ditambah lagi dengan ballhead Manfrotto 322RC2 yang saya gunakan bersama dengan tripod ini, posisi dan sudut kamera bisa sangat beragam sehingga kreativitas nggak akan terhambat…
Tinggi maksimum dengan kaki-kaki terentang normal & kolom tengah diset di posisi maksimum adalah 178cm. Sudah sangat-sangat cukup buat saya untuk bisa memotret menggunakan tripod ini tanpa perlu membungkuk. Kalau perlu monopod jadi-jadian, saya tinggal rapatkan saja kaki-kakinya dan setel ketinggian ygn saya inginkan. Beres deh…
Sampai sekarang, kombinasi tripod Manfrotto 055X ProB dengan ballhead Manfrotto 322RC2 masih jadi andalan saya. Rasanya (sampai saat ini) apa yang saya butuhkan dari tripod dan ballhead-nya sudah bisa tercukupi. Pilihan saya ini memang belum tentu cocok untuk orang lain. Tapi kalau anda punya pertimbangan & parameter yang sama dengan saya, nggak ada salahnya untuk mencoba kan?
Images of Manfrotto tripod 055X ProB & ballhead 322RC2 were taken from various resources





