Feeds:
Posts
Comments

Archive for March 25th, 2005


Ini adalah ungkapan populer yang sering digunakan orang untuk mengungkapkan apabila dihadapkan kepada dua (atau lebih?) pilihan yang sulit. Dan satu pilihan tetap harus diambil.

Itulah yang saya hadapi sekarang, atau lebih tepatnya beberapa waktu yang lalu, yang efeknya masih ada hingga sekarang.

Hal ini bermula dengan kepindahan saya ke negeri cartenz karena pindah perusahaan. Sebelum saya memutuskan untuk pindah ke tempat (perusahaan) yang baru ini, saya sudah mendapatkan kesempatan untuk melakukan kunjungan ke wilayah kerja, istilah kerennya jobsite visit, atas biaya perusahaan yang akan menggunakan jasa saya ini. Karena negeri ini masih dikategorikan daerah terpencil (remote location) dan saya termasuk orang yang ‘rewel’ untuk masalah benefit dan fasilitas, apalagi yg bersangkutan dengan keluarga, saya gunakan kesempatan ini untuk melihat-lihat fasilitas yang ada, walaupun tidak semua, dan banyak bertanya ke HRD dan juga karyawan lama yang sempat saya temui mengenai fasilitas untuk keluarga. Saya merasa perlu bertanya ke teman-teman karyawan, karena saya tahu HRD nggak bisa diharapkan. Sudah pasti mereka akan mengobral seribu satu janji surga demi mendapatkan orang yang mereka inginkan untuk bekerja untuk perusahaan mereka. Karena itulah saya rewel (baca: teliti) dalam segala hal yang mereka janjikan.

Satu hal yang saya dan istri sangat perhatikan adalah masalah pendidikan anak-anak kami. Dan untuk hal ini, saya benar-benar berusaha untuk memastikan bahwa pendidikan mereka akan terjamin selama saya bekerja di tempat terpencil ini. Perusahaan menyediakan fasilitas pendidikan hingga jenjang SMP yang dikelola oleh yayasan yang bernaung di bawah perusahaan. Dan setelah tanya sana-sini selama kunjungan, saya memutuskan bahwa: Oke, kayaknya fasilitas pendidikannya cukup komplet, kualitasnya bagus, anak-anak saya akan mendapatkan pendidikan yang baik selama saya bekerja di sini.

Ternyata saya salah.

Ternyata yang katanya kualitas bagus itu adalah cerita lama. Yang saya dapatkan, mutu pendidikan yang ada tidaklah sesuai dengan harapan saya, tidak sampai ke batas ambang bawah pun. Yang saya dengar, mutu pendidikan yang ada memang semakin menurun dari waktu ke waktu karena berbagai macam alasan, kebanyakan alasan politis perusahaan dan politis masyarakat lokal.

Singkat kata, saya serta merta dihadapkan ke depan dua pilihan yang sangat sulit: tetap mempertahankan keluarga saya di sini dengan resiko pendidikan anak-anak, atau mengembalikan mereka ke kota asal kami di mana pendidikan mereka akan terjamin dengan resiko kami akan hidup berjauhan.

Anak-anak sangat dekat dengan saya. Hidup berjauhan untuk jangka waktu yang lama akan sangat sulit untuk mereka dan juga saya. Saya tidak pernah membayangkan hidup berjauhan dengan istri dan anak-anak saya untuk jangka waktu yang sangat lama. Sebelum ini, kami hanya berjauhan paling lama 3 minggu pada waktu saya bertugas ke luar kota. Namun untuk mempertahankan mereka di sini, saya akan merasa sangat bersalah, mengetahui mereka layak mendapatkan pendidikan yang jauh lebih baik daripada yang ada di sini.

Yang terjadi, kami memilih pilihan kedua.

Sudah sekian lama kami hidup terpisah dan hanya bertemu pada saat saya cuti, pulang ke kota di mana mereka tinggal. Saya berusaha mengatur hari cuti yang ada, kapan saya akan cuti terutama pada saat periode libur sekolah, berapa lama supaya hari yang ada cukup untuk dipakai selama setahun. Setiap kali saya mengajukan cuti ke atasan saya, saya menganggapnya adalah pemberitahuan semata dan bukan meminta ijin. Karena, diijinkan atau tidak, saya tetap akan pulang pada hari yang sudah saya tentukan untuk bertemu keluarga saya. Saya sudah secuek itu.

Namun, betapapun saya berusaha mengaturnya, tetaplah tidak cukup.

Hampir tiap dua-tiga hari sekali saya menelpon ke rumah. Hampir setiap saat saya telpon pula, anak-anak menyambut dan berebutan bercerita dengan riang. Tapi, tidak jarang pula mereka bertelepon dengan nada yang sangat sedih sambil mengungkapkan betapa kangennya mereka untuk ketemu ayah. Tidak sekali-dua istri saya mengirim SMS menceritakan bahwa dia memergoki salah satu anak kami sedang menangis tanpa suara, dan setelah ditanya kenapa ternyata mereka sedang kangen ayahnya! Dan betapa setiap kali saya akan berangkat ke bandara setelah cuti, mereka memeluk saya erat-erat sambil menangis, tidak rela ayahnya kembali ke negeri cartenz yang jauh di mata mereka.

Dan setiap kali semua itu terjadi, hati saya teriris-iris…

Saya jadi bertanya-tanya, apakah saya sudah membuat keputusan yang benar. Saya sendiri tidak tahu.

Saya sudah memakan buah simalakama itu…

 

Read Full Post »