Feeds:
Posts
Comments

Archive for April, 2005


Di tulisan saya sebelumnya “Regular Meeting – Only for Kebo?”, saya sudah menyinggung satu dari dua poin yang ingin saya komentari dari tulisan “Morning Meeting – Kebo ke Sawah” nya Irwin. Kali ini saya ingin mengomentari poin kedua…

Saya termasuk sering mendengarkan jargon yang dimaksud oleh Irwin “Satu orang ke luar, seribu orang antre siap menggantikannya” di kalangan petinggi kadipaten Mojorejo Inggil Sedoyo di negeri Cartenz ini, terutama sehubungan dengan rencana bedol desa paksa sebagian warga kadipaten dari negeri Cartenz ke negeri Jayakarta, yang masih di bawah kekuasaan negeri Cartenz. Bagaimanapun, saya adalah salah seorang kepala desa, walaupun desa saya termasuk kecil dibandingkan dengan desa-desa lain di kadipaten ini, itupun masih dijajah kepala desa lain pula. Kedudukan saya sebagai kepala desa membuat saya juga ikut dalam musyawarah-musyawarah dan pertemuan rutin kepala desa se-kadipaten.

Pada beberapa pertemuan terbatas kepala desa / carik se-kadipaten yang saya ikuti, sering kali terungkap pertanyaan atau concern dari 1-2 carik mengenai upah dan jatah beras yang akan didapat para penduduk desa yang dipindah-lokasikan ke negeri Jayakarta. Pertimbangannya, kalau upah yang diterima menurun, ditakutkan banyak penduduk yang akan lari ke negeri lain. Tetapi para kades dan carik yang lain yakin akan janji penguasa negeri yang katanya sedang mengkaji ulang undang-undang yang ada dan akan mengeluarkan undang-undang baru mengenai upah para penduduk yang dipindahkan ke negeri Jayakarta, di mana upah yang diterima akan tetap bagus dan tidak bisa dikalahkan oleh penguasa negeri lainnya (ini rupanya yang menyebar menjadi gosip, datangnya dari para kades dan carik juga..). Para kades dan carik itu juga yakin, walaupun banyak penduduk yang lari, dengan iming-iming upah dengan standar yang menurut penguasa Cartenz lebih tinggi dibanding upah di negeri lain mereka bisa membujuk penduduk negeri lain untuk pindah ke negeri Jayakarta dan bekerja untuk mereka.

Keliatannya pemecahannya gampang ya? Penguasa negeri ini memang cenderung untuk menggampangkan permasalahan, dan sifat ini rupanya juga dimiliki (atau menurun?) adipati, kades dan carik-carik di kadipaten ini.

Kenyataannya, ternyata nggak segampang itu. Kalau gampang, mustinya rumah di desa-desa itu sudah penuh dong? Di desa tetangga yang pekerjaannya mengurus sawah saja ada dua rumah yang kosong dari dulu, sekarang malah ada dua penduduk lagi yang pergi, jadi total ada empat rumah yang kosong. Belum lagi di desa lain yang penduduknya buruh pabrik. Kondisi ini justru pada saat desa-desa itu masih ditempatkan di negeri Cartenz yang notabene upahnya lebih tinggi. Kalau desa-desa itu dipindah ke negeri Jayakarta yang (ternyata) upahnya jauh lebih rendah? Apa nggak tambah banyak yang hengkang? Para kades dan carik berkoar mereka akan gampang mencari penduduk baru apabila sudah pindah ke Jayakarta nanti, karena penduduk yang pintar bertani dan melinting rokok jauh lebih banyak di sana. Pertanyaan berikutnya, apa mereka mau pindah ke negeri Jayakarta dengan standar upah di sana? Penduduk dengan kualitas bagus tentu akan memilih negeri yang bisa membayar mereka mahal. Jadi, apa yang akan negeri Jayakarta dapatkan? Sementara rumah-rumah itu kosong, sawah yang ada tetap harus dikerjakan. Rokok tetap harus dilinting. Beban penduduk yang masih tinggal semakin berat. Belum lagi, setiap sawah punya karakteristik sendiri-sendiri untuk cara bajak dan porsi pupuknya. Setiap jenis rokok berbeda cara melintingnya….

Terlintas pula di pikiran saya, jangan-jangan para penguasa negeri Cartenz, termasuk sang adipati, memang punya rencana lain di balik semua ini. Jangan-jangan ini memang salah satu rencana mereka untuk mengurangi kepadatan penduduk di negeri dan kadipaten ini. Dan setelah itu mereka akan lari ke negeri Pakdesam dengan segala harta kekayaan mereka, termasuk harta penduduk negeri ini, dan meminta perlindungan dari penguasa negeri itu….

Saya marah, sedih, bingung. Bagaimana saya bisa menolong dan menyelamatkan penduduk desa saya? Sementara menyelamatkan diri sendiri saja…..

 

Advertisements

Read Full Post »


Saya tergelitik untuk menanggapi tulisan Irwin Morning Meeting – Kebo ke Sawah. Ada dua poin yang bisa saya tangkap di tulisan itu. Saya akan coba tanggapi satu poin dulu di tulisan ini, mengenai daily morning meeting/briefing yang diadakan setiap pagi di section Irwin (yang notabene section saya juga, walaupun saya tidak pernah mengakuinya…:p). Poin yang lain akan saya ulas di tulisan lain (lagi-lagi nggak janji. Kalau sempat ya…:) ).

Morning meeting yang dimaksud Irwin ini memang diadakan sejak kepala desa (kades) mereka yang lama pindah ke desa lain, dan kades bule baru (sebetulnya interim kades lama juga sih..) mengambil alih operasi di desa mereka. Setiap pagi, setiap kebo (oops..sorry Win 😀 ganti istilah ke Pak Tani aja deh..) ditanyai satu-persatu status sawah garapan mereka, apakah sawah mereka semalam baik-baik saja, ada masalah, ada problem dengan warga desa tetangga (yg notabene karyawan pabrik semua, karena nggak punya sawah..), dll.

Jujur aja, hasilnya sebetulnya terasa sekarang. Keadaan di desa lebih stabil (dibanding dulu..), sawah jarang ada yang problem juga. Penduduk desa saya yang tugasnya mengawasi sawah di desa tetangga selama 24 jam, juga semakin jarang menemukan masalah di sawah-sawah mereka dan juga tidak perlu sering-sering membangunkan salah satu dari para petani itu untuk mengejar babi hutan yang merusak sawah mereka. Hal ini semua tidak lain karena para petani desa tetangga saya ini menjadi lebih giat menggarap sawah mereka, juga karena fasilitas untuk menggarap sawah lebih komplet daripada dulu. Dana mengucur deras dari kades bule untuk membeli cangkul, traktor, pupuk, bahkan insektisida untuk memberantas hama.

Jujur juga, saya sering menemukan fakta kalo petani lokal itu harus diawasi tiap hari tiap saat, baru deh kerjanya bener, dan hal ini juga terjadi di desa-desa lain di negeri cartenz ini, nggak cuma di desa sebelah. Sebetulnya kades bule sudah meminta kades lokal yang dulu untuk melaksanakan pengawasan harian ini. Tapi, dalam pelaksanaanya kades lokal dulu lebih jadi seperti kamp konsentrasi daripada musyawarah desa (saya curiga pendekatan ini hanya untuk menutupi fakta bahwa kades lokal sebetulnya tidak memiliki teknik bertani yang memadai), walhasil para petani banyak yang merasa tertekan. Kades bule mengubah pendekatan itu, dan hasilnya lebih lumayan daripada kades lokal dulu. Mungkin itu kelebihan orang bule? Mereka lebih cepat membaca situasi dan mengubah pendekatan. Walhasil, para petani merasa tenang walaupun mereka, sadar nggak sadar, tiba-tiba malah jadi terjajah. Seperti itu pula mungkin pendekatan VOC di jaman dulu.

Desa saya sendiri memang di bawah kontrol Pak Kades bule juga. Gerakan perlawanan yang dulu marak, sekarang tinggal menjadi gerakan sporadis sewaktu-waktu saja. Pendekatan berbeda dari si kades bule benar-benar menyurutkan gerakan dan meniadakan alasan pemberontakan. Sadar nggak sadar, saya juga semakin terjajah.

Meminjam kata-kata Gonjez, dobol……

 

Read Full Post »

Kamera Baru


Saya bergabung dengan salah satu komunitas fotografi di internet beberapa waktu lalu. Sebetulnya hal ini dimulai secara tak disengaja, waktu saya iseng-iseng masukkan kata “Fotografer” di Google, waktu itu tujuan utama saya adalah mencari situs dengan artikel-artikel mengenai ilmu dasar fotografi. Setelah hasil pencarian muncul di layar Google, saya klik saja satu link di barisan paling atas dan kemudian browse di situs tersebut.

Hei, ternyata situs ini tidak hanya memuat artikel tentang ilmu fotografi dan tempat diskusi tentang fotografi, tetapi juga memungkinkan setiap orang yang tertarik untuk bergabung (subscribe), menampilkan foto hasil karyanya di situs ini (upload) dan saling mengkritik, mengomentari dan menilai foto hasil karya masing-masing.

Maka, saya pun bergabung dengan komunitas ini. Belakangan saya mendapatkan pula bahwa ternyata ada beberapa teman yang sama-sama bekerja di negeri cartenz ini yang bergabung di sini, bahkan banyak dari mereka itu adalah teman-teman dari departemen yang sama.

Artike demi artikel saya baca, foto demi foto yang saya hasilkan saya upload. Teknik fotografi saya, sedikit banyak, mulai meningkat. Seiring dengan itu, saya juga merasakan keterbatasan dari kamera poket digital yang saya gunakan, untuk bisa mengikuti teknik-teknik yang saya baca dan pelajari, untuk menghasilkan foto-foto yang saya inginkan. Kritik dan komentar terhadap foto-foto yang sudah saya tampilkan juga makin menunjukkan keterbatasan kamera yang saya gunakan.

Oke, saya harus ganti kamera!

Kamera digital SLR tidak murah. Tapi tekad saya untuk kembali menekuni hobi lama yang terlupakan ini sudah terlanjur kuat. Mulailah saya membanding-bandingkan beberapa kamera yang spesifikasinya kira-kira sesuai dengan keinginan saya dan juga kekuatan kantong, selain juga mencari pembeli untuk kamera poket digital yang saya punyai.

Kamera lama sudah terjual, kamera baru sudah datang. Tinggal cari ide dan obyek untuk menghasilkan foto. Selama 1 minggu hari kerja semenjak kamera baru datang, saya lumayan sibuk dan tidak sempat melihat-lihat untuk mendapatkan ide.

Sekarang, week-end datang dan saya malah terbaring sakit di kamar saya. Saya masih harus menunda lagi keinginan saya mencoba kamera baru. Sebel…

Read Full Post »

MIS – Counting Down…


MIS – counting down since March 01 until today:

  1. Rudy ‘Gonjez’ (pindah ke Newmont)
  2. Pak Slamet (pindah departemen)
  3. Luki Ginanjar (pindah departemen)
  4. Michelle (pengen istirahat aja…)
  5. Irwin (katanya sih pindah ke Aceh…)
  6. Om Wok (pindah departemen)
6 personnel in one month? This is outrageous 😀 You might also want to read what is my friend’s view (he’s one of the person in above list as well..) about this at Daun-daun Berguguran….

Selamat deh, buat yang udah pada ‘lulus’ dari MIS university, doakan saya cepat ‘lulus’ juga ya…:)


 

Read Full Post »